DIALEKTIKA
KEILMUAN MAHASISWA
by : Rizki Mulyadin
“Jiwa
patriotisme tanpa ditumbuhkembangkan hanya akan menjadi pengusul perubahan
tetapi tidak menjadi penggerak dan peserta pergerakan tersebut, hanya akan
menjadi orang yang menikmati hasil tanpa berusaha.”
Pertumbuhan merupakan suatu hal yang wajar dalam kehidupan mahluk hidup, merupakan suatu proses alami yang dialami oleh
mahluk hidup dalam mencapai kematangan individu yang dewasa. Manusia sebelum
mencapai individu yang matang, harus melewati proses pertumbuhan sebagai syarat
menjadi pribadi yang dewasa, setelah dia melewati proses ini maka seseorang
tidak lagi bisa kembali pada keadaan yang sebelumnya kerena memang ciri dari
pertumbuhan itu sendiri tidak dapat kembali ke asal (irreversibel). Ini merupakan kenikmatan yang
diberikan oleh Tuhan kerena pada hakikatnya manusia sebagai bagian dari mahluk hidup yang secara alamiah
akan mengalami transformasi pada kesempurnaan fisik maupun pembenahan jiwa.
Kata “mahasiswa” pun merupakan transformasi dari
berbagai jenjang pendidikan formal sebelumnya. Keunikan dari mahasiswa tidak lebih dari kata “maha” yang mendampinginya. Biasanya
kata “maha” ini
disandingkan dengan nama-nama terbaik Allah yang beberapa diantaranya adalah: Maha Pemaaf, Maha Pemurah, Maha
Pengasih. Kata “maha” ini untuk membedakan dengan manusia
yang memiliki sifat pemaaf, pemurah, pengasih., bahwa di atas sifat manusia yang pemaaf,
pemurah, pengasih, masih ada
yang lebih pemaaf, pemurah, pengasih., yaitu pemilik sifat maha dari segala sifat terindah
manusia tak lain ialah Allah.
Lalu untuk membedakan siswa dengan mahasiswa tidak lain diantaranya
ialah dialektika (KBBI: hal berbahasa dan bernalar dengan dialog sebagai cara
untuk menyelidiki suatu masalah) suatu ciri khas dari mahasiswa sebagai pembawa perubahan
dalam tatanan sosial. Walaupun identitas pembawa perubahan ini tidak diberikan
oleh masyarakat tetapi identitas ini akan secara otomatis melekat ketika kita mendapatkan
kata “maha” dari sebelumnya
siswa.
Menumbuhkan
jiwa patriotisme
Patriotisme merupakan salah satu
bagian dari idealisme dalam hakikat manusia. Patriotisme bukan bagian dari
materi, karena sifat patriotisme ini lahir dari rasa cinta akan tanah air,
lahir dari perasaan memiliki tanah air dan siap mengorbankan diri untuk
membelanya.
Rasa simpati masyarakat khususnya
para kaum mudanya yang memiliki semangat patriotisme dan nasionalisme yang
tinggi sehingga mereka akan sangat terganggu oleh perilaku pihak manapun baik
dari dalam maupun luar negeri yang merugikan kepentingan bangsa dan negara dan
siap berdiri di depan untuk menghadapi para pengganggu.
Kejayaan suatu negara dapat diraih
jika sumber daya manusianya memiliki mutu yang tinggi. Jiwa patriotisme yang
begitu ideal ketika ditopang oleh pengetahuan yang mendalam dan pasti, yang Wetheimer istilahkan
dengan wawasan (insight).
Membela tanah air dengan otak lebih baik dari pada dengan otot. Pendidikan formal
sebagai pemupuk jiwa patriotisme seharusnya menekankan wawasan peserta didik
bukan hafalan dan ingatan buta yang mengorbankan pemahaman.
Jika penekanan pemahaman ini terjadi
pada semua pemuda bangsa ini, maka tidak perlu Ir. Soekarno yang memimpin para
pemuda untuk mengguncang dunia tetapi para pemuda-lah yang memimpin anggotanya
untuk mengguncangkan dunia ini. Jika jiwa patriotisme yang ideal ini tumbuh
dari sekarang maka pemuda berikutnya akan menjadikannya modeling untuk perilaku berikutnya.
Mahasiswa
Sebagai Pembawa Perubahan
Mahasiswa adalah kelompok penggerak
dalam perubahan seperti yang sedikit dibahas di muka, dengan jiwa patriotisme yang dimiliki yang
digabungkan intelektual sehingga pergerakan yang dilakoni akan memberikan
kesan. Maka dari sinilah terjadi keresahan jika para pemuda-pemuda, khususnya mahasiswa, tidak memiliki jiwa patriotisme
maka punahlah para penggerak perubahan yang intelektual.
Salah satu kekhawatiran nyata bagi
kemajuan bangsa ini adalah pemakaian narkoba yang dapat merusak kesadaran (concious)
pemuda-pemuda bangsa ini, narkoba menjadi salah satu faktor utama mundurnya
bangsa ini karena kemajuan bangsa tergantung dari penerusnya saat ini. Secara
spekulatif bisa dikatakan para pemakai narkotika adalah mereka yang membunuh
jiwa patriotismenya.
Para intelektual yang patriotisme
sejatinya tidak akan melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri
lebih-lebih merugikan masa depan bangsa, karena pembawa perubahan adalah
intelektual, intelektual harus dimiliki oleh seorang yang patriotisme dan
seorang yang patriotisme harus membawa perubahan. Para pemuda-pemuda khususnya
Mahasiswa yang intelektual dan berwawasan tidak akan menggunakan narkoba karena
mereka secara sadar sebagai pembawa perubahan.
Editor : Bernas Wiraning

No comments:
Post a Comment